personal

mamak

‘mamak sih udah siap dipanggil kapan saja. umur udah segini tua. udah punya cicit. sodara sedarah semua sdh pergi. mamak juga ga punya utang. jadi, lebih cepat dipanggil lebih baik. asal ga ngerepotin anak-anak. mamak udah siap’

hari ini saya kangen sekali sama mamak. ibu ke dua yang sayang dan cintanya tiada dua. yang selalu bilang ‘jadi perempuan harus pinter cari duit, jangan tergantung sama laki’. yang selama hidupnya tak pernah minta apa-apa, kecuali saya hidup dengan cara yang baik. jadi manusia baik.

mamak yang nyentrik. yang mengajari saya main remi, cangkulan, 41 dan karambol. yang tanpa harus cerewet nyuruh-nyuruh cinta buku…tapi dia selalu membaca sebelum tidur. yang mengajari saya hidup simpel. yang menulari bahwa cuek itu penting banget…ga usah dengerin yang nyinyir bin usil. yang tetap tenang walau badai datang dan angin menderu.

dulu, saya yang bengal selalu berlindung di balik badan kecil mamak. saya jarang curhat, tapi jika penat saya akan lari padanya, lalu tidur di kasurnya. lalu sudah. setelahnya saya selalu merasa lebih baik. saya masih ingat tatapan mamak yang penuh cinta. tatapan yang selalu membuat saya merasa dicintai banget banget. yang dalam diam, mamak seolah tau apa-apa saja yang saya rasakan.

setelah mamak pergi, saya nyaris kehilangan nafsu untuk mudik. rasanya sakit mendapati rumah kosong, dan rumah pelarian saya pun sama. tak ada lagi yang membangunkan saya dari tidur sore. tak ada lagi yang minta diantar ke bank atau minta ditemani berjalan ke pasar. saya merasa useless.

hari ini saya kangen mamak. kangen menciumi mukanya sampai ia meronta. kangen menyandarkan kepala saya di pangkuannya…lalu tersedu bersama.

duh. saya. kangen. mamak. sampai. dada. saya. sakit.

 

 

 

 

Advertisements
personal

RumahGunung A7

Nyaris sebulan tinggal di rumah A7, belum sekalipun saya memostingnya di blog kesayangan. Waktu saya habis untuk nyapu – ngepel – mikir kenapa tiba-tiba listrik mati, lalu masak di pagi hari, lalu pergi ke kantor yang sekarang butuh 1,5 jam lamanya.

Iyak, alhamdulillah, akhirnya punya rumah juga di pinggiran (banget) ibukota.

Setelah bertahun-tahun males mikir punya rumah, setelah Agan puluhan kali ngirim brochure rumah dari pinggiran jabodetabek sampai mataram-lombok, setelah saya (akhirnya) merasa butuh tempat untuk pulang…akhirnya saya memutuskan untuk mencari rumah idaman. Hmm…idaman banget? Gak juga sih. Waktu nyari, saya sudah nge-set ekspektasi untuk tidak muluk-muluk, karena: 1. duit saya amat sangat terbatas, 2. silakan baca alasan nomer 1.

Saya meminta waktu 1 bulan full untuk mencari rumah idaman. didampingi Susilo, sahabat lama sekaligus driver andalan, saya menjelajah pelosok pinggiran depok dan sekitarnya. Mengapa Depok? 1. sahabat-sahabat saya sebagian besar bermukim di sana, 2. bengkel isirumahku ada di sana, 3. patut diakui, karena agan udah lebih dulu tinggal di sana, jadi kalo mau ngerepotin jadi gampang kan…*ditabok

Selama 1 bulan, setiap Sabtu saya dan Susilo mencari rumah. Senin-Jumat saya mencatat potensial calon rumah idaman, lalu Sabtu kami akan visit dan cek harga. Selama perjalanan itu, sekali saya kalah cepat merebut rumah idaman dan pernah juga rumah idaman saya tidak disetujui oleh kakak (dan agan) dengan alasan rumah second banyak PR nya. Well, padahal saya sdh membayangkan bangun tidur ketemu kabut Ciliwung. Juga pernah, saya udah keburu nafsu ingin mengambil rumah yang menurut saya pas-pas-saja

Di Sabtu ke-empat, saat deadline sudah sangat dekat, saya menderita stress berat. Hari itu saya mengunjungi sebuah hunian di daerah Jatijajar. Jangan tanya lokasi pastinya….saya lupa blas. Hunian itu jauhhhhh sekali, rumahnya keciiill sekali dan harganya mahalll sekali. Fix. Saya. Emosi!

Sabtu sore di minggu ke-4, saya pulang ke rumah Agan dengan segala lelah yang rasanya udah sampai ubun-ubun. Panas, lepek, perut lapar adalah paduan sempurna untuk emosi yang paripurna. Sore itu, selepas mandi, sembari makan baso Agan memulai diskusi dengan hati-hati. Tentang apa yang saya cari, berapa isi dompet saya dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Diskusi over the baso finished, lalu Agan menggelandang saya ke kantor pemasaran di sebelah rumahnya. Iya kantor pemasaran #rumahgunung. Haha!

Di kantor pemasaran, tanpa diskusi ini itu, Agan menyodorkan pilihan. Mau yang ini atau yang itu. Kalau yang ini nantinya akan begini, kalau yang itu nantinya akan begitu. Salah satu yang saya ingat adalah ‘yang ini aja ya, nanti kalo kamu bangun tidur, bisa langsung lihat gunung’ dan setelah saya lirik, nomor kavling itu adalah 7. Ok, that’s my number. Okesip. Saya setuju.

Begitulah jika sudah jodoh. Semua bagaikan air mengalir. Kadang ketemu batu kerikil atau bahkan batu besar, tapi ia tetap mengalir. Sejak uang tanda jadi dibayar, lalu membayar dp (dan ngutang pulak)…lalu saya mulai merasakan kupu-kupu di perut semakin bergemuruh saat melihat bangunan semakin tinggi, makin kelihatan bentuknya dan akhirnya jadi rumah beneran.

Keponakan saya, Intan, melapor pada ibunya, ‘Rumah tante banyak jendela besar, jadi terang benderang‘. Lalu ibunya menjawab, ‘Oh, dari dulu tante sering bilang, kalo punya rumah pemgen yang banyak jendela’. Entahlah, kapan saya bilang hal itu pada ipar saya. Tapi itulah jodoh. Jika ia memang ditakdirkan untukmu, maka terjadilah.

********************

Nyaris sebulan tinggal di #rumahgunungA7, saya sibuk sekali. Menyapu dan mengepel. Mencuci baju, pekerjaan yang sdh lebih dari 10 th saya tinggalkan. Memasak pagi hari. Hmmm, saya berusaha berkebun walaupun masih jauh dari sukses. Oh iya…saya jadi anak kereta. Menyukuri dan menikmati hidup yang berubah. (tentu) tidak semuanya indah. Tapi, selama ada bismillah, saya yakin saya akan baik-baik saja.

Tentu saja perjalanan ini masih panjang. Pusing-pusing akibat punya rumah pun akan berdurasi lama. Tapi sudahlah, nikmati saja. Nanti akan selesai juga, pada akhirnya!

ketika masih tanah
tembok makin naik, makin deg-deg-an
lelah, pak mandor?
my fav spot

 

 

got this painting from my ex boss

learn from other · my thought · personal · Uncategorized

reviewing my life

kemarin saya dihadapkan oleh kejadian yang membuat saya merasa insecure. saya mengingat banyak hal; tentang karir, keluarga, hubungan yang ga pernah jelas arah mata anginnya, pertemanan. semua.

setelah me-review 10 tahun perjalanan terakhir, berujung pada banyak sekali ketidakpuasan dan pertanyaan yang tak bisa saya jawab. bukan karena tidak tahu jawabnya, tapi saya benar-benar takut pada kenyataan hidup bahwa selama ini saya memang agak salah jalan. saya tahu saya salah jalan, tapi saya diam dan hanyut makin dalam. i hate myself for being so damn stupid, stubborn and atulah…ngepet!

hari ini saya ada di titik di mana saya harus mengambil sebuah keputusan besar. dimana keputusan yang saya ambil memberi dampak pada kehidupan saya seluruhnya. saya merasa lemah, lalu merasa butuh pertolongan. ketika orang-orang yang anggap bisa menolong ternyata tidak sesuai harapan, saya jadi gemas-gemas beringas. itu baru satu hal.

di saat genting seperti ini, saya ingin sekali fokus bekerja, tidak mendengar kabar sumir, tidak melihat hal-hal yang tidak ingin saya lihat. ketika inipun gagal…saya bertambah emosi. yawlaaaa…saya beneran kesel sampai ke ubun-ubun.

lalu hari ini saya ngobrol banyak dengan sahabat saya. dimana kami saling nyampah, bercerita apa saja.

saya bercerita tentang kegamangan yang sedang saya alami. diapun mengeluarkan semua keruwetan hidup yang sedang dijalani. mendengar dia bercerita, saya nangis. saya merasa Tuhan menjawab semua pertanyaan yang tak bisa dan tak berani saya jawab sendiri. sekali lagi, God is always Great! Tuhan menjawab semua kegamangan  lewat sahabat saya.

sepanjang kami ngobrol, sahabat saya terus-terusan ngingetin bahwa kami memang terlahir sebagai pejuang yang teruji di medan laga. sahabat saya ‘membesarkan hati’ bahwa saya pasti bisa melewati ini semua. pasti bisa karena saya sudah teruji di medan-medan pelik di hari-hari kemarin. tak perlu memikirkan yang tak penting. prioritaskan apa dan siapa saja yang memrioritaskan kita. bahwa berbuat bodoh adalah manusiawi…terima saja and take a good learnt from our lesson.

betapa Tuhan memang maha pembuat skenario. jika kemarin Ia membuat saya bertanya dan mempertanyakan banyak hal, hari ini Ia memberi saya jawaban. Clear and bold!

so, keep on fighting..dear me!

 

Uncategorized

Rumah

Screenshot_2017-08-22-01-27-54-1

2 tahun lalu, Agan menggambar rumah bu konjen. Rumah yang saya banget. Ada pohon dan ada ayunan di sana. He knows me so well.

Selama 2 tahun ini pula, Agan yang selalu cerewet mengingatkan agar saya punya sarang sendiri. Saya sih butuh gak butuh. Lebih ke malas kali pindahan…dan malas kali bayarnya! ;p

Tapi bukan Agan kalo cepat menyerah. Dia selalu dan selalu cerewet. Mengirimkan brosur rumah di sini dan di sana. Ga cukup di Jakarta, property-property di Mataram pun ia sambangi demi membuka mata saya yang susah melek. doh, dia pasti suka gemes sendiri.

Butuh 2 tahun untuk membuat saya tergerak dan memulai mimpi baru. Lalu mau bersusah-susah mencari di sini dan di sana. Agan tetap memantau…dari WA..haha…kalau face to face disinyalir dia akan emosi lalu menceramahi saya macam-macam. oh nooooo….

Ok. Ayo bertarung kali ini. Iam a good fighter.

Kali ini, Semesta…saya butuh asupan doa dari semua.

 

my thought · personal

jangan (cepat) menyerah

malam ini saya menghabiskan 2 cangkir kopi pahit demi membahas hal-hal yang pahit dalam hidup. *duh

baiklah.

diumur yang menjelang 40 *bookkk…, kisah hidup terasa semakin lucu.

tetangga kanan kiri sudah bersarang dan membangun hidup baru. banyak cerita bahagia menguar. tak sedikit juga cerita sedih terdengar.

si A baru saja memutuskan mengadopsi anak setelah gagal program bayi tabung. si B memutuskan pisah rumah karena jika bersama, hidup dua hati akan makin susah. si C sedang iri melihat teman-temannya yang tampak bahagia dan dia tidak. si D sedang berkeras hati untuk berpisah.

ah, hidup.

dalam sepenggal waktu minum kopi malam ini, saya sempat menggumam, ‘mengapa orang terlalu cepat menyerah, padahal untuk bersama butuh usaha, untuk bersatu rasanya harus menaklukkan jalan berliku’.

duh, saya terjebak jadi tukang tuduh! 😦

siapa tahu mereka yang kini sedang ingin berpisah sudah melalui keluh resah gundah yang tak sudah-sudah. siapa tahu mereka yang kini sedang ingin sendiri sudah melewati hari hiruk pikuk yang melelahkan, hingga mereka begitu rindu pada sunyi sepi. mereka rindu (untuk) sendiri.

*********

paham bahwa hidup bisa demikian rapuh, saya ingin mengingatkan diri sendiri, untuk tidak (mudah) menyerah dengan apapun yang membuat hati (saya) gundah. untuk tidak mudah menyerah walau rasanya ingin. walau suara-suara ajaib seringkali berkata ‘sudah!’

 

jika rasanya duniamu akan runtuh, semoga Tuhan hadir dalam ingatan-ingatan saat duniamu terasa biru. semoga Tuhan hadir dalam tarikan nafas yang membawa harapan.

jika rasanya kau tersudut di jalan yang buntu, jangan ragu untuk berbalik arah. saya yakin saat kau berjalan, ada Tuhan di sana. ada Semesta yang mendukung. ya, Semesta selalu mendukung…kalau Ia (kadang) terasa menikung…Ia hanya ingin menguji sebentar. selalu ingat, susahmu datang diapit dua kemudahan. jadi, jangan terlalu kalut dan larut.

saya tahu dan paham benar, ada kala hati terasa berat. rasanya, bernapaspun satu-satu. jika kau sedang merasa begitu, pejamkan matamu dan berusahalah untuk tenang. aturlah napas, karena ada Tuhanmu di situ. di udara yang kau hirup dan memenuhi rongga dadamu.

***************

ingat, jangan (mudah) menyerah. karana kita (aku dan kamu) ditakdirkan untuk berjuang. berusaha sebaik kita bisa. dan yakinlah kita (memang) bisa (pada akhirnya).

***************

me time · oleh-oleh jalan-jalan · personal

Lebaran bersama Agan

Lebaran tahun ini saya tidak pulang. Alasannya? Tentu karena ibu dan mamak sudah tak ada. Rasanya saya nggak siap untuk menikmati sepi di rumah sendiri. Pedih, kak!

Jadilah lebaran kali ini jadi lebaran yang paling santai selama saya jadi imigran gelap ibukota.

Saya tidak begadang rebutan tiket mudik. Nggak blusukan Tanabang. Ngga nuker-nuker duit (tapi teteph transfer sana sini sik ;p)..dan nggak-nggak yang lain. Beneran woles.

Lebaran hari pertama, saya shalat di dekat rumah, lalu ngacir ke rumah kakak ke-2 untuk salam-salaman dan makan opor. Ga pake lama karena jam 10 pagi saya sdh sampai Pejaten lalu nonton tv dan bobok siang. Nonton tv dan bobok siang kemudian diulang dilebaran ke dua, plus saya nge-mall demi menghindari santan.

Bangun pagi di lebaran ke-tiga, Agan mengirim pesan..bertanya apakah saya ingin menepi ke rumah gunung. Saya menolak. Entah darimana ceritanya, tiba-tiba saya dan Agan bersepakat untuk pergi ke Lombok. Agan sudah punya tiket, saya belum. Maka, segera saya cek website tiket online dan segera membeli tiket untuk penerbangan jam 18.30. Well…saya harus segera berkemas.

Agan yang terbang jam 3.30 tentu saja lebih dulu sampai. Dia menunggu saya landing nyaris 3 jam setelahnya. Ketika saya turun dari lantai 2 bandara, saya melihatnya duduk persis di dekat eskalator. Kami bertukar senyum lebar. Lalu saling minta maaf…dengan agak-agak dramatis. yah, hidup tanpa drama pasti akan terasa datar saja kan…

Dari bandara, kami menuju rumah Fian untuk menunggu pagi dan bisa berpikir jernih tentang ‘mau kemana sih kita?’ kami memang pergi tanpa rencana. Terserah hati dan kaki saja.

Maka, ketika pagi hari Agan mengajak untuk bablas ke Maluk, saya langsung oke saja. Saya janji akan jadi anak manis..no rewel..no protest..

Mungkin karena saya berjanji akan jadi anak manis…maka Agan juga jadi anak manis (banget). hahahha…duh, saya harus akui ini…biasanya he’s the reseh and nyebelin and nyiyir to the maxx…tapi kemaren Agan berubah jadi malaikat. Selama nyaris seminggu hidup bareng, kami bahkan ga sempet berantem. Ini PRESTASI yang membanggakan!

Jadi, ngapain aja selama kami di Maluk?

                                                              lebaran di seberang
  1. Piknik dari pagi sampai menjelang sore dimana tiap pagi Agan belanja cemilan dan ransum makan minum. Seperti biasa, saya bangun siang, cuci muka dan cuss…duduk bonceng motor menuju spot-spot pantai
  2. Berenang
  3. Saling foto dan record some moments to remember *uhuk…sebenernya Agan si yang lebih rajin…dia kan lebih narsis…;p
  4. Baca buku *salah bawa buku..ketebelan jd ga kelar-kelar
  5. Dengerin musik dari playlist Agan. Selera musik kami kebetulan sama
  6. Tidur siang
  7. Pulang…mandi dan nerusin tidur siang..
  8. Bangun sore…lapar…makan (lagi)
  9. Malam makan lagi
  10. diulang berhari-hari

Diantaranya…kami sempat piknik sama penduduk sekitar dan makan siang bareng mereka. Diantaranya kami berburu sunset sampai ke Nomad Cafe…demi mengabulkan permintaan saya nyari yang dingin-dingin menyegarkan.

Kami juga sempat melihat-lihat celah untuk mewujudkan impian rumah pantai…YaTUHANNNN…saya deg-deg-an…hvft!

_____________________

Note:
– Seminggu hidup enak bareng Agan berakibat fatal. Saya menderita  ga bisa mikir ga bisa kerja berkepanjangan.
– Teluk Maluk ada di Kabupaten Sumbawa Barat. Pantainya banyak, semua cakep, mostly ga pake ombak goyang dombret, jd aman sentosa buat berenang syantiekk.
– Bagaimana cara ke Maluk?
a. Pesawat Jkt – Lombok = sekitar 700rb harga normal
b. damri dr bandara lombok ke kota mataram = 25rb
c. travel (inova) dari mataram ke pelabuhan kayangan = 50rb
d. speed boat dari kayangan ke benete = 135rb
sampai deh di Maluk….

Gampang kan?! #AyoKeMaluk

 

 

Continue reading “Lebaran bersama Agan”

Uncategorized

sakit

sabtu minggu lalu saya sakit. entah dari mana datangnya rasa mual itu, hingga sarapan melon pun terbuang percuma.

setelah mual mereda, badan terasa lemas. mulut pahit, kepala berat.

saya pun merelakan sederet rencana di hari sabtu. dari mulai nengokin bengkel sampai makan sushi di malam minggu. sabtu habis meringkuk di kasur.

lemas tak kunjung reda hingga minggu tiba. mual sudah tak ada, tapi ia berganti diare. ah. rasanya kesal sekali. minggu pun saya gadai di kasur. 2 hari tak keluar gerbang. susah makan, badan gerah tapi dingin. dingin tapi keringetan. aneh.

saat sakit begini saya selalu teringat bapak. bapak selalu sukses membuat saya merasa nyaman saat saya sakit.

saya ingat. asma saya kumat saat saya masih tinggal di jogja. ibu panik menyuruh saya pulang ke cilacap. tak saya dengar suara bapak di telpon. tapi saya tahu bapak ada di belakang ibu. saya tahu, bapak tak kalah cemas.

hal ini terbukti saat kereta saya sampai, saya sudah melihat bapak duduk di sana, memastikan saya baik-baik saja.

dari stasiun kami langsung menuju dokter langganan. selama saya diperiksa, bapak berdiri di sisi kepala. tangannya mengusap rambut, mulutnya komat-kamit tanpa suara. saat saya sakit, bapak lebih sering meniup kepala saya. mungkin ia ingin menghanyutkan doa-doa lewat syaraf-syaraf di kepala. berharap doa-doanya akan mengalir di pembuluh darah, menakut-nakuti virus atau apapun yang bikin anaknya sakit. syukurnya…doa bapak cukup sakti. jika sudah ‘ditiup bapak’ saya merasa sembuh.

setelah bapak pergi (dan lalu ibuk pergi), saat sakit nasib saya seperti remahan krupuk yang tak lagi renyah. duh. sedih.

ini udah hari senin. badan saya masih awang-awangen kalo orang jawa bilang. tapi saya tetep ngantor si, soalnya kans buat dapet makanan bergizi lebih tinggi di kantor daripada saya tetep di kasur.

tapi, sayangnya…saat saya masih awang-awangen gini..saya dapat kabar kalok si agan, partner berantem saya sakit. duh. agan gitu lho. sampai sakit pasang oksigen segala.

saya? lebih merasa bingung ketimbang sedih. karena saya tahu agan itu lebih sehat dan kuat dibanding saya. jadi kalopun sekarang dia sakit, saya duga itu hanya karena capek.

saya tak bisa meniup ubun-ubun seperti yang biasa bapak lakukan ketika sakit. tapi saya bisa berkirim doa. Tuhan Maha Mendengar kan ya…termasuk doa saya yang biasa banget ini…‘semoga kamu lekas pulih..makan yang banyak (dan sehat), back to normal..biar kita bisa berantem lagi…buruan sembuhhhh kamuuuuu :* ‘…

 

 

Uncategorized

hari ini patah hati

saya patah hati karena (akhirnya) koh ahok dibui.

koh ahok yang bekerja dengan sangat keras untuk kami rakyat jakarta. dia yang dengan lantang ngomong ‘tai kucing’ pada sejawatnya yang makan uang rakyat. yang menggusur rumah di bantaran, yang menutup diskotik legendaris tempat yang tak ber-Tuhan untuk sebagian orang. dia, china yang nasrani tapi berhasil membangun masjid dan memberangkatkan marbot. saya patah hati.

saya baper. maksimal.

saya tahu tidak mudah menjadi minoritas di negeri ini. yang katanya semua warga, tak terkecuali sama kedudukannya di hadapan hukum. yang setiap warganya punya hak yang sama untuk berTuhan, menjalankan apa yang ia percaya tanpa rasa takut. tapi nyatanya? negara membiarkan ketakutan ditebar, negara membiarkan ‘polisi’ abal-abal menjadi brutal, menjadi hukum tak terbantahkan karena berlindung di balik nama Tuhan. saya patah hati.

saya patah hati. ketika banyak yang acuh dan merasa ini bukan problemnya. lalu, jika negara makin carut marut, lalu hukum semakin amburadul, masih bisakah kita bilang ‘ini bukan masalah saya?!’ jika ngurus ktp dipersulit seperti 5 tahun lalu…sekolah jadi barang tak terbeli…lalu santer kalimat ‘orang miskin dilarang sakit’…masih bisakah kita bilang ‘ini bukan masalah saya?!’

saya patah hati. karena ia yang berani menangkap maling, yang berani pasang badan untuk rakyat…akhirnya dibui. saya patah hati karena banyak orang hilang akal dengan alasan ‘membela Tuhan’. ah!

hari ini saya patah hati.

 

personal

long day today

jam 3.01

saya masih di kemang. berhadapan dengan 4 deadline sekaligus. 4 deadline yang nyaris sama tp beda. beda target, beda gaya, satu yang sama: bikin saya pusing kepala

jam 3.02

beberapa hari terakhir, saya benar-benar dilanda bosan. saya pengen punya waktu lebih untuk diri sendiri. sekarang, mana mungkin saya hidup jauh dari hp…client-client setia menghubungi, bertanya dan menagih janji deadline yang harus saya penuhi. lagi-lagi deadline. deadline lagi lagi!

long wiken kemarin saya menghabiskan waktu bersama agan.

saya memasak sebentar, lalu kami makan dan sesuai rencana…saya…bekerja! *hih

saya menyelesaikan sebuah proposal, saat agan sibuk mencuci baju. dari spot tempat saya bekerja, saya memperhatikan agan. ia asik memasukkan detergent, memasukkan baju-baju kotor. lalu memencet tombol mesin cuci. menunggu saat proses mencuci berjalan, lalu mengeluarkan baju-baju saat proses usai. proses mencuci, agan ulangi berkali-kali. agan memang baru pulang dari site, baju kotor pasti menumpuk

sembari menyelesaikan proposal, saya mengingat…kapan terakhir saya mencuci baju *bigGrin

‘aku kangen nyuci baju deh, keknya terakhir nyuci…sekitar 8 th lalu’, saya membuat pengakuan, dalam obrolan lewat ponsel di kemang-thamrin.

iya. saya yang dasarnya pemalas, memang jauh dari pekerjaan rumah tangga (kecuali memasak). badan saya terlalu letih untuk nyuci, nyetrika dan sebangsanya. dan…perlu diakui bahwa saya kangen.

saya kangen berbasah-basah kena busa sabun cuci, menjemur, melipat pakaian lalu menyetrika. saya juga kangen menyiram tanaman. yaampun…saya menyimpan jiwa mbok inem, ternyata! :))

jadi, jika nasib membawa saya pensiun dini, saya pengen menceburkan diri pada aktivitas cuci-cuci. merendam pakaian, kucek dikit, bilas dan merendam dengan pewangi. saya perhatikan, agan menikmati proses ini. di sela-sela waktu menunggu mesin berhenti berputar, dia bahkan bisa pulas di pojokan!

saya rindu hidup wajar. bangun pagi, kerja sewajarnya, tidur siang, membaca, doing things that i love, ga terburu-buru melakukan ini itu.

3.17

masih ada 2 deadline yang terpampang nyata. entah akan selesai jam berapa. how i miss my messy room…

 

 

personal

enjoy the ride, dear

itu kalimat yang saya ketik, ketika saya tidak tahu lagi musti bilang apa pada salah satu sahabat saya.

hidupnya sedang sangat menantang.

untuk seorang yang sangat menjaga kualitas kesehatan, divonis sakit dan musti menjalani treatment yang berat, pasti tidak mudah. galau sudah pasti. stress mudah menghampiri.

tapi, sekali lagi…hidup memang hanya untuk para pemberani. untuk mereka yang punya nyali.

saya tahu pasti, sahabat saya tak punya alasan untuk takut. selain keberanian, dia hanya butuh sedikit kecerdasan dan kecepatan bertindak. itu sudah cukup.

sisanya, cukup tersenyum karena Sang Maha Pemilik yang akan menyelesaikan semua.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS  Al-Insyirah: 5-6).

keep the fight, keep the faith.